-------------------------------------------------

-------------------------------------------------

Dimana sich sesunguhnya dunia maya

Dunia maya..tempat dimana seseorang bisa kemana saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. Melalui dunia maya kamu bisa berkomunikasi dengan orang di berbagai belahan dunia, bekerja secara remote dengan tim dari berbagai benua, serta membaca informasi yang ditulis oleh jutaan orang di berbagai negara. Tetapi sebenarnya ada dimana sih dunia maya itu? Hmmmm…
Sebenarnya, dunia maya yang kita kunjungi setiap hari ini terletak di data center. Di dalamnya ada banyak sekali komputer server, tempat untuk menyimpan dunia-dunia maya kecil yang terhubung hingga menjadi dunia maya yang besar dan luas.

Google merupakan salah satu raksasa internet saat ini, pengen tahu seperti apa data centernya? Berikut ini adalah beberapa foto data center Google:

Disinilah Dunia Maya itu Berada


Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Disinilah Dunia Maya itu Berada

Data center Google saja memang tidak bisa menggambarkan secara total tentang dunia maya. Data center Google tersebut hanya mewakili sebagian dari dunia maya itu sendiri. Tetapi paling tidak sekarang kamu tahu, dimana dunia maya yang biasa kita kunjungi tersebut berada. Di berbagai data center, dengan jutaan server yang saling terhubung.. disanalah dia berada.

Cak kis

Tikus dan solusi untuk petani organik

Sewaktu saya melewati suatu areal persawahan, saya lihat bagian pinggir sawah sekelilingnya keluar malai. Tapi di bagian tengahnya terlihat pendek akibat diserang hama tikus.

Pada kejadian yang lain, saya pernah saksikan bibit padi yang berumur sekitar 8 hari dibuat areal bermain para tikus. Bibit yang dimakan terlihat sedikit, cuma yang rebah terlihat banyak. Dan banyak lagi kejadian yang disebabkan oleh hama tikus ini.

Untuk mengendalikan hama yang satu ini sudah banyak yang dilakukan, mulai dari memasang perangkap, pengasapan, pake racun tikus, dll.

Dalam satu kesempatan, saya berbincang dengan teman sesama penyuluh POPT. Dari perbincangan ini, saya dapat informasi bahwa untuk mengendalikan hama tikus bisa menggunakan singkong dan air kelapa.

Alhamdulillah di Bantul Jogjakarta, ada petani yang mencoba cara mudah untuk membasmi hama tikus ini. Nama petani ini adalah Pak Hartoyo. Hartoyo mengatakan, temuannya  adalah ramuan pengusir hama tikus dari singkong direbus yang dicampur dengan air kelapa. Jika tikus meminumnya, dia akan kehilangan nafsu makannya dan beberapa hari kemudian tikus akan mati. http://nasional.kompas.com/read/2008/12/07/19050693/Petani.Bantul.Ciptakan.Ramuan.Alami.Pengusir.Hama

Bagaimana Pak Hartoyo mencoba ramuan ini? awalnya percobaan ini dimulai dengan sembilan temannya dari pelatihan yang diberikan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Bantul. Kemudian, mereka kombinasikan dengan banyak membaca buku-buku yang terkait. Alat-alat dan ramuan yang ditemukan berlaku untuk pengendalian hama untuk jenis apapun.

Dengan resep yang sederhana ini, kita pun dapat mencobanya. Dan semoga tikus-tikus yang menyerang tanaman padi dan tikus-tikus yang ada di rumah kita dapat dikendalikan.

Saya pribadi sudah mencobanya, ingin saya lihat tikus-tikus yang ada di dalam rumah dalam 1 pekan ini. Kalau berkurang maka racun tikus ini akan saya buat terus. Sebab cara ini mudah dibuat dan ramah lingkungan.
gambare swegerrrr


Bahan dan Alat
1. siapkan singkong ( singkong lama -kalau bisa yang sudah ada warna kebiruan- )
2. air kelapa
3. panci
4. kompor

Cara pembuatan
singkong yang tua di potong-potong

1. potong-potong singkong gak usah dikupas kulitnya dan gak usah dicuci. kan buat tikus,,,
2. masukkan ke dalam panci
3. tuang air kelapa secukupnya
4. rebus sampai singkong matang
5. setelah selesai, dinginkan bebeberapa saat
6. taruhlan potongan singkong-singkong tsb ditempat yang dilalui tikus
7. ulangi terus cara ke-6 dalam beberapa hari

Dengan cara ini, memang tidak langsung bisa membunuh tikus. Akan tetapi setelah tikus memakan, nafsu makannya akan berkurang, sehingga dalam beberapa hari tikus akan mati.

Selamat mencoba,,,

Catatan: kita bisa membuat racun dari singkong ini dalam jumlah banyak, kemudian kita simpan untuk diberikan pada hari berikutnya.
http://ceritanurmanadi.wordpress.com/2012/02/14/racun-tikus-singkong-direbus-air-kelapa/

cara kerja otak kita


Otak adalah pengendali tubuh. Tanpa otak maka kita mati karena otak lah yang mengkoordinasi semua pesan yang diteruskan lewat sistem saraf, memberikan kemampuan pada kita untuk belajar, membuat pertimbangan, dan merasa. Otak juga mengendalikan fungsi otomatis tubuh seperti bernafas, denyut jantung, pencernaan, pertumbuhan, dan tekanan darah.

Otak dibagi menjadi tiga bagian utama masing-masing dengan fungsi berbeda. Bagian besar di sebelah atas adalah serebrum atau otak besar, tempat sebagian besar pemikiran, pertimbangan, dan memori kita dikendalikan. Sereblum atau otak kecil adalah bagian yang lebih kecil di bagian belakang, tempat gerakan yang akurat dan koordinasi dikendalikan. Batang otak adalah bagian kecil di dasar otak tempat fungsi otomatis dan dikendalikan. Lalu bagaimana memori manusia bekerja?

Memori adalah kemampuan untuk menyimpan hal-hal yang kita alami dan pelajari, siap untuk digunakan di masa depan. Beberapa hal diingat dengan mudah, seperti peristiwa dramatis dalam kehidupan kita. Akan tetapi, hal-hal yang lebih biasa perlu diulang-ulang dalam pikiran selama beberapa kali sebelum "melekat erat".
0
0
0
Terdapat tiga cara berbeda menyimpan memori. Memori sensori, yang amat singkat, mengatakan kepada kita apa yang terjadi di seputar kita dan membuat kita dapat bergerak tanpa menabrak apapun. Memori jangka pendek, yang hanya bertahan sekitar 30 detik, dan membuat kita dapat mengingat nomor telepon dan menekan nomornya, tetapi setelah sekitar satu menit memori ini akan hilang. Akhirnya, memori jangka panjang, untuk hal-hal yang kita ingat-ingat dan pelajari dengan seksama.


Fungsi Fospat untuk pertanian

Posphat (P) merupakan unsur hara yang diperlukan dalam jumlah besar (hara makro). Jumlah fosfor dalam tanaman lebih kecil dibandingkan Nitrogen dan Kalium. Tetapi fosfor dianggap sebagai kunci kehidupan (Key of life). Unsur ini merupakan komponen tiap sel hidup dan cenderung terkonsentrasi dalam biji dan titik tumbuh tanaman. Unsur P dalam phospat adalah (Fosfor) sangat berguna bagi tumbuhan karena berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar terutama pada awal-awal pertumbuhan, mempercepat pembungaan, pemasakan biji dan buah.
Tanaman menyerap fosfor dalam bentuk ion ortofosfat (H2PO4-) dan ion ortofosfat sekunder (HPO4=). Selain itu, unsur P masih dapat diserap dalam bentuk lain, yaitu bentuk pirofosfat dan metafosfat, bahkan ada kemungkinan unsur P diserap dalam bentuk senyawa organik yang larut dalam air, misalnya asam nukleat dan phitin. Fosfor yang diserap tanaman dalam bentuk ion anorganik cepat berubah menjadi senyawa fosfor organik. Fosfor ini mobil atau mudah bergerak antar jaringan tanaman. Kadar optimal fosfor dalam tanaman pada saat pertumbuhan vegetatif adalah 0.3% - 0.5% dari berat kering tanaman.
      Karateristik fosfor yaitu, fosfor bergerak lambat dalam tanah; pencucian bukan masalah, kecuali pada tanah yang berpasir. Fosfor lebih banyak berada dalam bentuk anorganik dibandingkan organik. Di dalam tanah kandungan F total bisa tinggi tetapi hanya sedikit yang tersedia bagi tanaman.Tanaman menambang fosfor tanah dalam jumlah lebih kecil dibandingkan Nitrogen (N) dan Kalium (K)
 
Fungsi dari unsur Fosfor pada tanaman yaitu:  
(1) untuk pembentukan bunga dan buah,
(2) bahan pembentuk inti sel dan dinding sel,
(3) mendorong Pertumbuhan akar muda dan pemasakan biji pembentukan klorofil,
(4) penting untuk enzim-enzim pernapasan, pembentukan klorofil,
(5) penting dalam cadangan dan transfer energi (ADP+ATP)
(6) komponen asam nukleat (DNA dan RNA),
(7) berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman.

Gejala kekurangan unsur P di tandai sebagai berikut:
  • Reduksi pertumbuhan, kerdil
  • Daun berubah tua agak kemerahan,
  • Pada cabang, batang, dan tepi daun berwarna merah ungu kemudian menguning
  • Pada buah tampak kecil dan cepat matang
  • Menunda pemasakan
  • Penbentukan biji gagalPerkembangan akar tidak bagus.

Untuk pemupukan tanah, fosfat dapat langsung digunakan setelah terlebih dahulu dihaluskan (sebagai pupuk alam). Akan tetapi untuk tanaman pangan seperti padi, jagung, kedelai, dan lain-lain, pupuk alam ini tidak cocok, karena daya larutnya yang sangat kecil di dalam air sehingga sulit diserap oleh akar tanaman pangan tersebut. Untuk itu sebagai pupuk tanaman pangan, fosfat perlu diolah menjadi pupuk buatan.
Pupuk superfosfat terdiri dari :  
  • Single Super Phosphate (SSP),  
  • Triple Super Phosphate (TSP)
  • Monoammonium Phosphate (MAP),  
  • Diammonium Phosphate (DAP),  
  • Nitro Phosphate (NP),  
  • Ammonium Nitro Phosphate (ANP)

Semoga Berkenan...................................

Fungsi Nitrogen untuk pertanian

Sumber utama nitrogen adalah nitrogen bebas (N2) di atmosfer, yang takarannya mencapai 78% volume, dan sumber lainnya senyawa-senyawa yang tersimpan dalam tubuh jasad.  Nitrogen sangat jarang ditemui karena sifatnya yang mudah larut dalam air.
Nitrogen diserap oleh tanaman sebagai NO3- dan NH4+ kemudian dimasukkan ke dalam semua gas amino dan Protein.  Ada juga bentuk pokok nitrogen dalam tanah mineral, yaitu nitrogen organik, bergabung dengan humus tanah ; nitrogen amonium dapat diikat oleh mineral lempung tertentu, dan amonium anorganik dapat larut dan senyawa nitrat.

Nitrogen yang tersedia tidak dapat langsung digunakan, tetapi harus mengalami berbagai proses terlebih dahulu.  Pada tanah yang immobilitasnya rendah nitrogen yang ditambahkan akan bereaksi dengan pH tanah yang mempengaruhi proses nitrogen.  Begitu pula dengan proses denitrifikasi yang pada proses ini ketersediaan nitrogen tergantung dari mikroba tanah yang pada umumnya lebih menyukai senyawa dalam bentuk ion amonium daripada ion nitrat.

Adapun fungsi daripada unsur nitrogen pada tanaman adalah :

(1)  meningkatkan pertumbuhan tanaman,
(2)  meningkatkan  kadar protein dalam tanah,
(3)  meningkatkan tanaman penghasil dedaunan seperti sayuran dan rerumputan ternak,
(4)  meningkatkan perkembangbiakan mikroorganisme dalam tanah,
(5)  berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman

   Ciri-ciri tanaman yang kekurangan unsur N gejalanya :

•    pertumbuhan lambat/kerdil,
•    daun hijau kekuningan,
•    daun sempit, pendek dan tegak,
•    daun-daun tua cepat menguning dan mati,
•    jaringan tanaman mengering dan mati,
•    buah kerdil, kecil dan cepat masak lalu rontok.

Nitrogen banyak didapat dari udara. Udara merupakan sumber nitrogen paling besar yang dalam proses pemanfaatannya oleh tanaman melalui perubahan terlebih dahulu, dalam bentuk amonia dan nitrat yang sampai ketanah melalui air hujan, atau yang di ikat oleh bakteri pengikat nitrogen.

kelebihan nitrogen juga dapat berdampak negatif pada tanaman, yaitu:

•    Menghasilkan tunas muda yang lembek / lemah dan vegetatif
•    Kurang menghasilkan biji dan biji-bijian
•    Menperlambat pemasakan / penuaan buah dan biji-bijian
•    Mengasamkan reaksi tanah, menurunkan PH tanah, dan merugikan tanaman, sebab akan mengikat unsur hara lain, sehingga akan sulit diserap tanaman.
•    Pemupukan jadi kurang efektif dan tidak efisien.
Pupuk anorganik yang mengandung unsur N yang tinggi adalah Urea, ZA, Amonium Sulfat.

Semoga Bermanfaat........ ......

Menggunakan Pestisida Selektif Tanaman Cabai

 
Menurut Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973, yang disebut dengan pestisida adalah semua bahan kimia, bahan-bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit serta jasad penganggu yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian. Dalam airti luas, istilah pestisida mencakup semua bahan kimia yang digunakan untuk pertanian (kecuali pupuk) dan hasil ternak (Ditlintan 1985).
    Pestisida dapat dikelompokkan berdasarkan OPT sasaran, cara bekerjanya dan kandungan bahan aktif atau senyawa kimianya. Berdasarkan OPT sasaran yang dituju, pestisida dikelompokkan antara lain adalah sebagai berikut :

1) Insektisida, yaitu racun yang digunakan untuk membunuh serangga.
2) Fungisida, yaitu racun yang digunakan untuk membunuh cendawan atau jamur
3) Akarisida, yaitu racun yang digunakan untuk membunuh tungau
4) Rodentisida, yiatu racun yang digunakan untuk membunuh tikus

Berdasarkan cara kerjanya, pestisida dikelompokkan antara lain adalah sebagai berikut :
1) Repelen atau zat penolak, yang digunakan untuk mengusir serangga
2) Racun kontak, yang diserap melalui kutikula
3) Racun perut, yang bekerja di dalam perut OPT sasaran, sehingga racun ini harus dimakan terlebih dahulu oleh OPT sasaran tersebut
4) Racun translaminer, yang mampu menembus yang berada di dalam jaringan tanaman
5) Racun sistemik, yang masuk ke dalam jaringan tanaman dan ditranslokasikan ke seluruh bagain tanaman. Dengan demikian,racun ini tepat untuk mengendalikan hama-hama pengisap dan penyakit yang disebabkan oleh cendawan
6) Antifidan, yang menghambat kemampuan makan OPT sasaran
7) Penghambat pembentukan kitin, yang menghambat pembentukan kitin, sehingga proses pergantian kulit serangga terhambat

Berdasarkan bahan aktif atau senyawa kimia yng dikandungnya, pestisida di kelompokkan antara lain :
Baca juga :pengendalian hama dan penyakit secara alami

1) Pestisida golongan klor organik
2) Pestisida golongan fosfat organik
3) Pestisida golongan karbamat
4) Pestisida golongan piretroid sintetik
5) Pestisida golongan benzoil urea
6) Pestisida golongan mikroba

SELEKTIVITAS PESTISIDA
Dalam pengendalian OPT secara kimiawi, sebaiknya dipilih pestisida yang memiliki sifat selektif, selektivitas pestisida adalah pengaruh maksimum suatu jenis pestisida terhadap organisme sasaran, dengan pengaruh minimum terhadap manusia, hewan, serangga berguna dan kualitas lingkungan hidup.
Selektivitas pestisida dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu
(1) selektivitas fisiologi dan
(2) selektivitas ekologi, yaitu selektivitas penggunaan pestisida yang berdasarkan pada pengetahuan ekologi OPT. Contoh selektivitas ekologi: aplikasi pestisida berdasarkan Ambang Ekonomi (Ambang Pengendalian) hama, penggunaan pestisida sistemik, perlakuan benih dan sebagainya. Dengan demikian, pestisida yang berspektrum lebar dapat digunakan secara selektif (selektivitas ekologi). Namun demikian, dalam kaitan dengan Konsepsi PHT, yang diinginkan adalah penggabungan keduanya, yaitu penggunaan pestisida selektif (fisiologi) dan secara ekologi juga selektif.

PENGGUNAAN PESTISIDA BERDASARKAN KONSEPSI PHT
Berdasarkan konsepsi PHT, pestisida hanya digunakan kalau memang benar-benar diperlukan (sesuai dengan hasil pengamatan egroekosistem). Selain itu, penggunaannya harus berhati-hati dan sekecil mungkin gangguannya terhadap lingkungan. Secara umum, penggunaan pestisida harus mengikuti lima kaidah, yaitu :
1) Tepat sasaran
2) Tepat jenis
3) Tepat waktu  
4) Tepat dosis/konsentrasi
5) Tepat cara penggunaan      
Tepat Sasaran
Tepat sasaran artinya OPT sasaran harus diketahui jenis (species) nya secara cepat. Dengan demikian dapat ditentukan jenis pestisida yang tepat yang perlu digunakan. Contoh: Apabila OPT yang menyerang adalah serangga, maka dipilih insektisida. Apabila yang menyerang adalah tungau, maka dipilih akarisida.

Tepat Jenis
Setelah diketahui OPT sasaran yang akan dikendalikan dan jenis pestisida yang sesuai, maka perlu dilakukan pemilihan jenis pestisida yang tepat. Contoh : Untuk mengendalikan ulat grayak (Spodoptera litura), digunakan insektisida Lufenuron, Sihalotrin, dsb.

Tepat Waktu
Penggunaan pestisida berdasarkan konsepsi PHT harus dilakukan berdasarkan hasil pemantauan/pengamatan rutin, yaitu jika populasi hama atau kerusakan yang ditimbulkannya telah mencapai Ambang Ekonomi (Ambang Pengendalian). Hal ini disebabkan karena keberadaan hama atau penyakit pada pertanaman belum tentu secara ekonomis akan menimbulkan kerugian. Penyemprotan pestisida dilakukan pada pagi hari tetapi sebaiknya dilakukan pada sore hari, karena pada umumnya OPT (Khususnya serangga hama) pada tanaman cabai aktif pada sore/malam hari.

Tepat Dosis/Konsentrasi
Dosis pestisida adalah banyaknya pestisida atau larutan semport yang digunakan dalam setiap satuan luas, sedangkan konsentrasi pestisida adalah takaran pestisida yang harus dilarutkan dalam setiap liter air (bahan pelarut). Daya bunuh pestisida terhadap OPT ditentukan oleh dosis atau konsentrasi pestisida yang digunakan. Dosis atau konsentrasi yang lebih rendah atau lebih tinggi daripada yang dianjurkan akan memacu timbulnya OPT yang resisten terhadap pestisida yang digunakan.

Tepat Cara Penggunaan
Keberhasilan pengendalian OPT ditentukan pula oleh cara penggunaan atau penyemprotan pestisida. Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat melakukan penyemprotan pestisida adalah sebagai berikut :

1) Peralatan semprot
Yang dimaksud dengan peralatan semprot adalah : spuyer, alat semport, dan alat pelindung keamanan penyemprotan. Spuyer yang baik adalah ukuran butiran semport berdiameter antara 100-150 mikron, sedangkan alat semprot minimal memiliki tekanan sebesar 3 atmosfir, dan tidak bocor.

2) Keadaan cuaca
Yang dimaksud dengan keadaan cuaca adalah intensitas sinar matahari, kecepatan angin dan kelembaban udara. Penyemprotan sebaiknya dilakukan jika keadaan cuaca cerah, kelembaban udara di bawah 70% dengan kecepatan angin sekitar 4-6 km/jam.

3) Cara penyemprotan
Cara penyemprotan yang baik dilakukan dengan cara tidak melawan arah angin, kecepatan jalan penyemprotan sekitar 4 km/jam dan jarak spuyer dengan bidang semport atau tanaman sekitar 30 cm.

PENGENDALIAN OPT PADA TANAMAN CABAI

Pada umumnya OPT yang menyerang tanaman cabai adalah dari golongan serangga, tungau dan cendawan. Dengan demikian, pestisida yang digunakan adalah insektisida, akarisida dan fungisida. Insektisida dan akarisida selektif yang digunakan hendaknya memiliki sifat selektivitas fisiologi. Sampai saat ini belum banyak diketahui fungisida yang memiliki sifat selektivitas fisiologi. Oleh karena itu penggunaannya dapat dilakukan dengan cara yang bersifat selektivitas ekologi.

Hama-hama Utama pada Tanaman Cabai
1. Kutu daun pesik (Myzus persicae Sulz.)
Kutu daun persik menyebabkan kerugian secara langsung, yaitu mengisap cairan tanaman. Akibatnya daun yang terserang keriput, berwarna kekuningan, terputir dan pertumbuhan tanaman terhambat. Serangan berat dapat mengakibatkan tanaman menjadi layu. Selain itu kutudaun persik dapat menyebabkan kerugian secara tidak langsung, karena peranannya sebagai vektor virus.

Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan pestisida selektif, yaitu apabila populasi kutudaun persik telah mencapai ≥ 7 ekor/10 daun. Insektisida yang dianjurkan antara lain dari golongan I.G.R., yiatu Fipronil (Regent 50 EC®, 2 ml/l) dan Diafentiuron (Pegasus 500 EC®, 2 ml/l) (Moekasan dkk. 1995), Profenofos (Curacron ® 500 EC, 2 ml/l). Insektisida tersebut digunakan secara bergantian.

2. Thrips (Thrips parvispinus Karny)
Daun yang terserang thrips memperlihatkan gejala noda keperakan yang tidak beraturan, akibat adanya luka dari cara makan serangga tersebut. Setelah beberapa waktu noda keperakan tersebut berubah menjadi coklat tembaga. Daun-daun mengeriting ke atas.
Pestisida selektif digunakan apabila kerusakan tanaman cabai telah mencapai ≥ 15%. Insektisida yang dianjurkan antara lain dari golongan I.G.R., yaitu Fipronil (Regent 50 EC®, 2 ml/l), dan Diafentiuron (Pegasus 500 EC®, 2 ml/l), serta dari golongan mikroba, yiatu Spinosat (Success 25 EC®, 1,5 ml/l) (Uhan 1997), Abamektin (Agrimec® 18 EC, 0,5 ml/l). Insektisida tersebut digunakan secara bergantian.

3. Ulat grayak (Spodoptera litura F.)
Ulat grayak merusak daun dan buah cabai. Daun yang terserang oleh ulat grayak (instar I dan II) memperlihatkan gejala bercak-bercak putih yang menerawang, karena epidermis bagian atas ditinggalkan. Serangan oleh ulat grayak instar lanjut menyebabkan daun-daun berlubang dan pada akhirnya tanaman gundul.
Pestisida selektif digunakan apabila kerusakan tanaman cabai telah mencapai ≥ 12.5%. Insektisida yang dianjurkan antara lain dari golongan I.G.R., yaitu Flufenoksuron (Cascade 50 EC®, 2 ml/l). Lufenuron (Match 50 EC®, 2 ml/l). dan Diafentiuron (Pegasus 500 EC®, 2 ml/l) (Moekasan dkk. 1995), serta dari golongan mikroba, yiatu SLNPV (Spodoptera litura-Nuclear Polyhedrosis Virus) (Arifin 1988). Insektisida tersebut digunakan secara bergantian.

4. Tungau teh kuning (Polyphagotarsonemus latus Banks)
Tungau teh kuning menyerang daun-daun muda. Permukaan bawah daun yang terserang menjadi coklat berkilau. Daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah.
Pestisida selektif digunakan apabila kerusakan tanaman cabai telah mencapai ≥ 15%. Akarisida yang dianjurkan antara lain adalah Diafentiuron (Pegasus 500 EC®, 2 ml/l). Profenofos (Curacron 500 EC, 1 ml/l)s, Etion (Merothion 500 EC®, 2 ml/l). Oksitiokuinoks (Morestan 25 WP®, 2 g/l) dan Profenofoacron® 500 EC, 2 ml/l). Insektisida tersebut digunakan secara bergantian.

Penyakit Utama pada Tanaman Cabai

1. Penyakit busuk daun
Penyebab penyakit ini adalah cendawan Phytophthora capsici. Penyakit ini disebut pula lodoh, hawar daun, atau lompong. Penyakit ini dapat menyerang seluruh bagian tanaman, dari batang, daun hingga buah cabai. Gejala serangan berupa bercak tidak beraturan dan kebasah-basahan. Serangan yang berat menyebabkan seluruh tanaman menjadi busuk.
Untuk pengendaliannya digunakan fungisida sistemik Metalaksil-M 4% + Mancozeb 64% (Ridomil Gold MZ ®4/64 WP) dengan konsentrasi 3 g/l air, bergantian dengan fungisida kontak seperti Klorotalonil (Daconil ® 500 F, 2 g/l) . Kedua fungisida tersebut digunakan secara bergantian. Fungisida sistemik digunakan maksimal empat kali per musim.

2. Penyakit bercak daun
Penyebab penyakit ini adalah cendawan Cercospora capsici. Penyakit ini disebut pula penyakit mata katak atau totol. Pada daun terdapat bercak-bercak kecil berbentuk bulat. Bercak ini dapat hingga mencapai garis tengah lebih dari 0,5 cm. Pusat bercak berwarna pucat sampai putih, dengan tepi berwarna lebih tua. Pada serangan berat, daun-daun menjadi gugur. Selain menyerang daun, bercak juga sering ditemukan pada batang, juga tangkai buah. Serangan pada tangkai buah dapat meluas ke bagian buah dan menyebabkan gugur buah.
Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan fungisida Difenoconazole (Score ® 250 EC dengan konsentrasi 0,5 ml/l). Interval penyemprotan 7 hari

3. Penyakit busuk buah antraknose
Penyebab penyakit ini adalah cendawan Colletotrichum capsici atau Colletotrichum gloeoporioides. Gejala awal berupa bercak coklat kehitaman pad apermukaan buah, kemudian menjadi busuk lunak. Pada bagian tengah bercak terdapat kumpulan titik hitam yang merupakan kelompok spora. Serangan yang berat menyebabkan seluruh buah keriput dan mengering. Warna kulit buah seperti jerami padi. Cuaca panas dan basah mempercepat perkembangannya.
Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan fungisida Klorotalonil (Daconil ® 500 F, 2 g/l) atau Profineb (Antracol 70® WP, 2 g/l). Kedua fungisida tersebut digunakan secara bergantian.

Usaha + Narimo Ing Pandum

Pertanian Perbedaan Obat Paten dan generik

OBAT PATEN :

Adalah hak paten yang diberikan kepada industri farmasi pada obat baru yang ditemukannya berdasarkan riset Industri farmasi tersebut diberi hak paten untuk memproduksi dan memasarkannya, setelah melalui berbagaii tahapan uji klinis sesuai aturan yang telah ditetapkan secara internasional. Obat yang telah diberi hak paten tersebut tidak boleh diproduksi dan dipasarkan dengan nama generik oleh industri farmasi lain tanpa izin pemilik hak paten selama masih dalam masa hak paten.

Berdasarkan UU No 14 tahun 2001, tentang Paten, masa hak paten berlaku 20 tahun (pasal 8 ayat 1) dan bisa juga 10 tahun (pasal 9). Contoh yang cukup populer adalah Norvask. Kandungan Norvask ( aslinya Norvasc) adalah amlodipine besylate, untuk obat antihipertensi. Pemilik hak paten adalah Pfizer. Ketika masih dalam masa hak paten (sebelum 2007), hanya Pfizer yang boleh memproduksi dan memasarkan amlodipine. Bisa dibayangkan, produsen tanpa saingan. Harganya luar biasa mahal. Biaya riset, biaya produksi, biaya promosi dan biaya-biaya lain (termasuk berbagai bentuk upeti kepada pihak-pihak terkait), semuanya dibebankan kepada pasien.

Setelah masa hak paten berakhir, barulah industri farmasi lain boleh memproduksi dan memasarkan amlodipine dengan berbagai merek. Amlodipine adalah nama generik dan merek-merek yang beredar dengan berbagai nama adalah obat generik bermerek. Bukan lagi obat paten, lha wong masa hak paten sudah berakhir. Anehnya, amlodipine dengan macam-macam merek dan kemasan harganya masih mahal, padahal yang generik haraganya sekitar 3 ribu per tablet.

OBAT GENERIK:

Adalah nama obat yang sama dengan zat aktif berkhasiat yang dikandungnya, sesuai nama resmi International Non Propietary Names yang telah di tetapkan dalam Farmakope Indonesia. Contohnya: Parasetamol, Antalgin, Asam Mefenamat, Amoksisilin, Cefadroxyl, Loratadine, Ketoconazole, Acyclovir, dan lain-lain. Obat-obat tersebut sama persis antara nama yang tertera di kemasan dengan kandungan zat aktifnya. (Obat jenis ini biasanya dibuat setelah masa hak paten dari suatu obat telah berakhir dan menggunakan nama dagang sesuai dengan nama asli zat kimia yang dikandungnya)

OBAT GENERIK BERMEREK:

Adalah obat generik tertentu yang diberi nama atau merek dagang sesuai kehendak produsen obat. Biasanya salah satu suku katanya mencerminkan nama produsennya. Contoh: natrium diklofenak (nama generik). Di pasaran memiliki berbagai nama merek dagang, misalnya: Voltaren, Voltadex, Klotaren, Voren, Divoltar, dan lain-lain.

Nah, jelaslah bahwa obat genrik bermerek yang selama ini dianggap obat paten sebenarnya adalah obat generik yang diberi merek dagang oleh masing-masing produsen obat. Dan jelas pula bahwa pengertian paten adalah hak paten, bukan ampuh hanya karena mahal dan kemasannya menarik.

PERBANDINGAN

Dari sekilas penjelasan di atas, nampaklah bahwa khasiat zat aktif antara obat generik dan obat generik bermerek adalah sama sejauh kualitas bahan dasarnya sama. Contoh: misalnya saja penjenengan punya pabrik obat bernama cakmoki farma, yang memproduksi Natriun diklofenak dalam 2 produk. Yang satu obat generik, namanya otomatis Natrium diklofenak dengan nama produsen cakmoki farma. Adapun produk obat generik bermerek menggunakan nama yang dipertimbangkan agar mudah laku di pasaran, misalnya saja mokivoltar. Otomatis kualitas khasiat kedua obat Natrium diklofenak yang diproduksi cakmoki farma sama saja, soalnya membeli bahan dasar dari tempat yang sama dengan kualitas yang sama pula. Bedanya hanya pada nama, kemasan dan tentunya harga. Yang satu Natrium diklofenak generik dengan harga yang sudah ditetapkan sesuai peraturan dan satunya mokivoltar dengan harga lebih mahal, sesuai pangsa pasar dan segala lika-likunya. :P

Mengapa harga obat generik jauh lebih murah ketimbang obat generik bermerek ? Sebagaimana contoh di atas, Natrium diklofenak 50 mg, para produsen obat yang memproduksinya menggunakan nama generik yang sama, yakni Natrium diklofenak dengan label generik. Tanpa promosi, tanpa upeti dan tanpa biaya-biaya non produksi lainnya. Harganya sudah ditetapkan, yakni HNA (Harga Netto Apotek) plus PPN = Rp 10.884,- berisi 50 tablet dan HET (Harga Eceran Tertinggi) = Rp 13.605,- sebagaimana diatur Kepmenkes No.HK.03.01/Menkes/146/I/2010. Artinya, harga per tablet Natrium diklofenak 50 mg gak akan lebih dari Rp 272,- per tablet, siapapun produsennya. Tidak bisa diotak-atik lagi. Itu sebabnya harga obat generik jauh lebih murah ketimbang obat generik bermerek.

Masih banyak pertanyaan serta opini seputar obat generik dan obat bermerek, terutama terkait kualitas dan harganya.

Akhirnya, tak ada salahnya kita belajar kepada negara lain yang telah mapan dalam memberikan informasi terbuka kepada khalayak, misalnya India, agar bangsa Indonesia lebih memahami seluk beluk obat dan berhak menentukan pilihan sesuai situasi dan kondisi masing-masing pengguna jasa layanan kesehatan.

budidaya bawang merah bag 1

PENDAHULUAN

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan Jawa Timur yang  sangat fluktuatif  harga maupun produksinya.  Hal ini terjadi karena pasokan produksi yang tidak seimbang antara panenan pada musimnya serta panenan di luar musim, salah satu diantaranya disebabkan tingginya intensitas serangan hama dan penyakit terutama bila penanaman dilakukan di luar musim.  Selain itu bawang merah merupakan komoditas yang tidak dapat disimpan lama, hanya bertahan 3-4 bulan padahal konsumen membutuhkannya setiap saat.

Masalah utama usahatani bawang merah di luar musim adalah tingginya resiko kegagalan panen karena lingkungan yang kurang menguntungkan , terutama serangan hama dan penyakit.  Hama dan penyakit penting pada bawang merah antara lain : ulat bawang (Spodoptera exigua) dan Thrips , sedangkan penyakitnya meliputi antraknose, fusarium dan trotol.

Keberadaan hama dan penyakit tersebut menyebabkan petani menggunakan pestisida secara berlebihan karena petani beranggapan bahwa keberhasilan usahatani ditentukan oleh keberhasilan pengendalian hama dan penyakit, yaitu dengan meningkatkan takaran, frekuensi dan komposisi jenis campuran pestisida yang digunakan.  Akibatnya biaya usatani bawang merah semakin tinggi dan keuntungan yang diperoleh tidak seimbang serta  tidak memperhatikan konsep pertanian ramah lingkungan. Dampak lain penggunaan pestisida yang berlebihan yaitu ledakan dari hama sekunder.

Untuk mengantisipasi masalah di atas salah satu usaha yaitu mencari dan menggali varietas-varietas bawang merah yang mempunyai sifat-sifat unggul terutama dalam hal produksi serta ketahanan terhadap hama dan penyakit utama sehingga varietas bawang merah tersebut mampu berproduksi walaupun serangan hama dan penyakit cukup berat. Bilamana varietas unggul yang tahan terhadap hama dan penyakit diperoleh maka varietas tersebut dapat ditanam pada luar musim sehingga kesinambungan produksi bawang merah dapat terjamin.

Dari 141 varietas bawang merah yang ada termasuk varietas introduksi belum didapatkan varietas yang tahan terhadap penyakit di atas kecuali varietas Sumenep yang relatif tahan terhadap penyakit “Otomatis” tetapi tidak tahan terhadap penyakit “Alternaria”.  Sayangnya varietas ini tidak mampu berbunga  dan belum diketahui cara merangsang bunganya, serta berumur panjang walaupun mempunyai kualitas terbaik untuk bawang  goreng (Permadi, 1992).  Beberapa galur somaklonal dari varietas Sumenep sudah dihasilkan oleh Balitsa Lembang dan sudah dilakukan uji daya hasilnya di beberapa lokasi.  Hasil somaklonal dari varietas Sumenep mempunyai umbi yang lebih besar dengan warna yang lebih mengarah kemerah muda dibandingkan varietas Sumenep yang asli.  Diharapkan galur somaklonal Sumenep tetap mempunyai sifat tahan terhadap hama dan penyakit utama serta mempunyai umbi besar , warna menarik dan rasa bawang goreng yang lebih enak.

            

PERMASALAHAN

1. Adanya perbedaan produksi pada musim kemarau dan musim hujan

            Fluktuasi produksi  selalu terjadi pada usahatani bawang merah yang disebabkan  adanya perbedaan produksi di musim kemarau dan musim hujan.   Pada  musim hujan intensitas serangan hama terutama Spodoptera exigua dan penyakit seperti Fusarium, Alternaria dan Antraknose semakin tinggi.  Sehingga kegagalan panen sering terjadi pada musim hujan. Hal ini disebabkan pada musim hujan, kelembaban udara lebih tinggi dibandingkan musim kemarau sehingga intensitas serangan penyakit lebih tinggi. Sedangkan pada musim kemarau suhu udara lebih tinggi dibandingkan musim hujan sehingga intensitas serangan hama lebih tinggi dibandingkan intensitas serangan penyakit (Rosmahani et al, 1998)  Oleh karenanya produktivitas di musim hujan semakin menurun dan pasokan produksi juga menurun sehingga terjadi fluktuasi harga.  Sehingga diperlukan adanya varietas bawang merah yang sesuai untuk musim kemarau dan musim hujan



2 Belum cukup tersedia varietas unggul bawang merah yang resisten terhadap                       hama dan penyakit penting serta sesuai pada musim hujan

            Sampai saat ini belum  tersedia varietas unggul bawang merah yang resisten terhadap hama dan penyakit penting kecuali varietas Sumenep.  Sayangnya varietas Sumenep belum disukai konsumen bawang merah karena penampilan umbinya kurang menarik dengan warna umbi kekuningan dan bentuk umbinya lonjong dan kecil.  Namun somaklonal dari varietas Sumenep dapat menghasilkan umbi dengan ukuran yang lebih besar dari varietas  aslinya dan warna umbi merah muda. Selain itu varietas Sumenep sangat renyah dan enak untuk bawang goreng.  Dan nampaknya hasil somaklonal varietas Sumenep mempunyai daya adaptasi yang luas pada beberapa agroekologi di dataran rendah hingga dataran tinggi (Baswasiati et al, 2000)

               Pada musim hujan, petani tetap menggunakan varietas yang sesuai untuk musim kemarau seperti Super Philip, Bima, Kuning, Maja  karena keterbatasan varietas yang sesuai untuk musim hujan .  Varietas Bauji untuk sementara ini ditanam oleh petani di wilayah Nganjuk dan Kediri pada musim hujan, walaupun sebenarnya sudah dikenal petani Probolinggo dengan nama bawang Biru dan ditanam oleh petani Probolinggo pada musim kemarau dan musim hujan.

3. Ketergantungan petani bawang merah terhadap benih impor

            Dalam usahatani bawang merah, benih merupakan salah satu faktor produksi yang memerlukan biaya tinggi, dengan kebutuhan benih sekitar 800-1.200 kg/ha.  Tingginya kebutuhan benih bawang merah baik dalam bentuk benih komersial maupun benih sumber , ternyata belum diikuti produksi benihnya. Selain itu petani bawang merah di Indonesia nampaknya sangat tergantung terhadap benih impor seperti varietas Super Philip dan varietas dari  Thailand, India dan Vietnam (berkembang di daerah Brebes). Padahal benih impor varietas bawang merah yang tersebar di Indonesia merupakan bawang merah untuk konsumsi yang disimpan 2-3 bulan.  Hal ini karena belum banyak produsen yang mau bergerak di bidang  perbenihan bawang merah. (Indrawati dan Padmono, 2001) .  Kendala tersebut disebabkan antara lain : a) usaha perbenihan bawang merah membutuhkan modal yang cukup tinggi dan areal serta gudang yang luas, b) pengetahuan dan ketrampilan SDM terutama dalam produksi benih masih rendah , c) daya simpan benih bawang merah rendah (2-5 bulan ) dengan susut bobot yang tinggi , d) permasalahan penyimpanan benih dapat diatasi dengan pembentukan benih berupa biji, sayangnya ketrampilan ini cukup sulit disosialisasikan pada petani

4. Kendala dalam hal sosialisasi dan substitusi varietas unggul bawang merah

            Nampaknya selera produsen dan konsumen bawang merah di beberapa wilayah sentra produksi di Indonesia  cukup beragam dalam memilih dan mengembangkan suatu varietas.  Konsumen dan produsen bawang merah di Jawa Timur sangat menyukai varietas Super Philip karena produktivitasnya tinggi, umbi besar dan bulat, warna umbi menarik – merah keunguan mengkilat walaupun rasanya tidak terlalu pedas.  Oleh karenanya varietas Super Philip menyebar merata pada semua areal pertanaman bawang merah di Jawa Timur dengan luasan 25.000 hektar dan selalu dijumpai di pasar wilayah Jawa Timur.         

            Sedangkan di wilayah Kabupaten Brebes sebagai sentra produksi bawang merah terbesar di Indonesia (dengan luas areal tanam 16.993 hektar) dan di Jawa Tengah pada umumnya (dengan luas areal tanam 55.578 hektar) terdapat varietas bawang merah yang beragam (Diperta Propinsi Jateng, 2001).  Varietas-varietas yang dikembangkan di Jawa Tengah terdiri dari varietas lokal dan varietas introduksi , antara lain : Bima Brebes, Kuning, Sumenep, Ampenan, Maja Cipanas, Medan, Tawangmangu Baru, Super Philip, India, Thailan dan Vietnam (Indrawati dan Padmono, 2001).  Hal ini menunjukkan perbedaan selera konsumen dan produsen di beberapa wilayah   yang mempengaruhi terhadap perkembangan suatu varietas unggul/varietas baru.

            Seperti halnya varietas Bauji  yang telah dilepas menjadi varietas unggul untuk musim hujan  nampaknya baru berkembang di daerah asalnya yaitu di kabupaten Nganjuk dan sekitarnya.  Usaha untuk sosialisasi varietas Bauji sudah dilakukan pada setiap kesempatan , baik  secara formal dan non formal seperti Temu Lapang, Pelatihan dan pertemuan dan wawancara langsung dengan petani bawang merah .  Namun sampai saat ini varietas Bauji baru berkembang dengan luas areal tanam sekitar 5.000 hektar.  Hal ini karena produktivitas varietas Bauji lebih rendah dibandingkan varietas Super Philip bila ditanam di musim kemarau .  Sedangkan pada musim hujan, varietas Bauji lebih unggul dibandingkan varietas Super Philip.  Selain itu oleh para tengkulak , hasil panen varietas Bauji dihargai lebih rendah dibandingkan varietas Super Philip sehingga petani memilih menanam varietas Super Philip walaupun musim hujan.  Dan keterbatasan produsen benih varietas Bauji dengan usaha dalam skala kecil yang hanya berada di Nganjuk dan beberapa di Kediri mempengaruhi ketersediaan benih varietas tersebut.


PEMILIHAN VARIETAS

  Banyak varietas bawang merah yang dibudidayakan di Indonesia.  Sampai saat ini perbanyakan dari varietas-varietas tersebut dilakukan secara vegetatif dengan umbi, padahal varietas tersebut mampu berbunga dan berbiji secara alami kecuali varietas Sumenep.  Karena selalu dibiak secara vegetatif maka praktis tidak ada perubahan susunan genetiknya dan karena itu sampai sekarang tidak didapatkan varietas yang tahan terhadap penyakit daun yang sering menggagalkan pertanaman bawang merah (Permadi, 1992).

Terdapat dua varietas unggul bawang merah yang baru dilepas oleh Menteri Pertanian pada bulan Maret 2000 dan usulan pelepasannya dilakukan oleh BPTP Jawa Timur.  Kedua varietas tersebut adalah Super Philip (atau lebih dikenal oleh petani sebagai varietas Philipine) dan varietas Bauji yang berasal dari Kediri/ Nganjuk .  Serta satu varietas yaitu Batu Ijo yang masih dalam proses pelepasannya.

Varietas Bauji merupakan varietas lokal yang belum banyak dikenal oleh petani bawang merah.  Namun di sentra produksi bawang merah Nganjuk dan Kediri sudah umum di tanam di musim hujan.  Keragaan tanaman varietas Bauji agak berbeda dengan varietas Super Philip terutama pada penampilan daun dan umbinya.  Daun bawang merah varietas Bauji lebih ramping (kecil) dengan warna lebih hijau dan sudut antara daun lebih kecil dibanding Super Philip.  Varietas Bauji bila ditanam di musim hujan nampak lebih kekar dibanding varietas Super Philip dan beberapa varietas lain seperti Bima, Ampenan, Kuning dan sebagainya.  Namun bila Bauji ditanam di musim kemarau kurang vigour pertumbuhannya dibandingkan varietas Super Philip.  Varietas Bauji akan tumbuh dan berproduksi lebih baik di musim hujan karena varietas ini lebih menyukai pada kelembaban udara yang tinggi dan tahan terhadap curah hujan yang tinggi mulai awal pertumbuhan sampai tanaman dipanen.  Sedangkan varietas bawang merah lainnya kecuali varietas Sumenep sudah tidak mampu tumbuh dan berproduksi dengan baik karena daunnya sudah hancur terkena air hujan (Baswarsiati dkk, 1995 dan 1996; Rosmahani dkk, 1997; Korlina dkk, 1998).

  Dari hasil pengujian tersebut tampak bahwa produktivitas varietas Bauji lebih tinggi dibanding varietas pembanding lainnya kecuali dengan Bali Ijo bila ditanam di musim hujan.  Hasil umbi kering bisa mencapai 13,65 ton per hektar dengan jumlah anakan per rumpun lebih dari 10 serta tinggi tanaman di atas 35 cm.  Ciri penting dari varietas Bauji yaitu daunnya nampak lebih langsing (sempit) dengan warna daun hijau tua, daun tebal, sudut daun kecil (lebih tegak), warna umbi merah keunguan mengkilat, bentuk umbi bulat lonjong dan daun nampak kekar bila ditanam di musim hujan.

  Varietas bawang merah Bauji yang merupakan varietas lokal asal Nganjuk telah dilepas dengan Keputusan Menteri Pertanian  No 65/Kpts/TP.240/2/2000 sebagai varietas unggul untuk musim hujan karena memiliki daya hasil tinggi dan stabil, toleran terhadap kelembaban udara tinggi dan curah hujan tinggi.

Sedangkan bawangmerah varietas Philipine yang merupakan introduksi dari Philipine, sudah lebih dari 15 tahun dikenal dan ditanam petani dan telah menyebar ke berbagai sentra produksi bawangmerah .  Saat ini di Jawa Timur, hampir seluruh petani bawangmerah menanam varietas Philipine dan tidak lagi menanam varietas bawangmerah lokal seperti Ampenan, Bima yang dulu sebelum munculnya varietas Philipine mendominasi varietas bawangmerah yang ditanam petani. Luas tanam bawang merah varietas Philipine hampir di seluruh areal pertanaman bawang merah di Jawa Timur yaitu sekitar 24.610 hektar  (Diperta Prop. Jatim, 1998)

Keistimewaan varietas Super Philip adalah bentuk umbi bulat dengan warna merah keunguan mengkilat, umbi besar dengan rata-rata 8-10 g/umbi dan hal ini sangat disukai konsumen.  Selain itu varietas Philipine mampu bertahan dipenyimpanan lebih dari 4 bulan.  Tinggi tanaman bisa lebih 40 cm dan bila ditanam di dataran tinggi dengan kondisi tanah subur bisa mencapai tinggi lebih 50 cm.  Jumlah anakan berkisar 10-12, umur panen 55-60 hari bila ditanam di dataran rendah dan 70 hari bila ditanam di dataran medium sampai tinggi. Sedangkan produktivitas varietas Philipine yaitu 17 – 18 t/ha umbi kering  Oleh karenanya varietas Philipine telah dilepas oleh Menteri  Pertanian menjadi varietas unggul dengan nama Super Philip berdasarkan  Keputusan No 66/Kpts/TP.240/2/2000.

Varietas Batu Ijo merupakan varietas lokal asal Batu yang telah ditanam petani kawasan Batu puluhan tahun dengan nama asal Bali Ijo. Varietas ini telah diusulkan pelepasannya karena mempunyai beberapa kelebihan antara lain umbi sangat besar (> 20 gram/umbi) mirip dengan bawang Bombay. Jumlah anakan sedikit 2-5 anakan per rumpun. Daun tanaman lebih lebar seperti bawang daun.  Batu Ijo sesuai ditanam di musim kemarau , di dataran rendah hingga dataran tinggi (10-1300 m dpl).

KESESUAIAN AGROEKOLOGI

            Persyaratan kesesuaian agroekologi untuk usahatani bawang merah terutama ditentukan oleh kelembaban, tekstur, struktur dan kesuburan tanah.  Secara umum tanaman bawang merah memerlukan bulan kering 4-5 bulan , curah hujan 1000-1500 mm/th, drainase dan kesuburan baik, tekstur lempung berpasir dan struktur remah (Widjajanto et al, 1998).  Sedangkan setiap varietas bawang merah mempunyai daya adaptasi yang lebih khusus pada agroekologi tertentu , seperti halnya varietas Super Philip dan Bauji.

     Bawangmerah varietas Super Philip dapat diusahakan mulai di dataran rendah hingga di dataran tinggi, yaitu 20 m – 1000 m dpl. Sangat sesuai ditanam di musim kemarau dengan sinar matahari dibutuhkan sebanyak-banyaknya dan lahan tidak ternaungi. Tanah yang diinginkan yaitu berdrainase baik dan kesuburan tinggi, tekstur lempung berpasir dan struktur remah dengan pH 6-6,5.  Dapat dibudidayakan di lahan sawah, lahan kering atau lahan tegalan, dengan jenis tanah bervariasi dari Aluvial, Latosol dan Andosol  (Baswarsiati et al, 1998).

   Bawangmerah varietas Bauji dapat diusahakan di dataran rendah yaitu 20 m –400 m dpl ,sangat sesuai ditanam di musim hujan.. Tanah yang diinginkan berdrainase baik dan kesuburan tinggi, tekstur lempung berpasir dan struktur remah dengan pH 6-6,5.  Dapat dibudidayakan di lahan sawah, dengan jenis tanah bervariasi dari Aluvial, Latosol dan Andosol  (Baswarsiati et al , 1998).


  PEMILIHAN BIBIT
        Varietas bawang merah yang selama ini ditanam oleh petani umumnya varietas yang sesuai ditanam di musim kemarau saja namun rentan terhadap serangan hama ulat grayak serta penyakit penting pada bawang merah. Seperti halnya 8 varietas unggul yang telah dilepas Pemerintah antara lain varietas Bima Brebes, Maja, Keling, Medan , Super Philip, Kramat-1, Kramat-2 dan Kuning hanya sesuai untuk musim kemarau.  Sedangkan varietas unggul bawang merah yang sesuai pada musim hujan dan telah dilepas Pemerintah hanya varietas Bauji .  Usahatani bawang merah pada musim kemarau menghasilkan pasokan produksi yang tinggi karena cukup banyak ragam varietas yang dapat ditanam di musim kemarau.  Seperti halnya di sentra produksi Brebes, petani menanam beragam varietas bawang merah yang ada , termasuk varietas Sumenep.  Sedangkan di Jawa Timur, petani hanya menanam varietas Super Philip karena produktivitasnya lebih tinggi dibandingkan varietas lainnya.

   Bibit merupakan salah satu kunci utama dalam keberhasilan suatu usahatani .  Adapun persyaratan bibit bawang merah yang baik antara lain :

·         Umur simpan bibit telah memenuhi , yaitu sekitar 3-4 bulan, walaupun untuk umur simpan yang lebih muda bibit tetap tumbuh namun pada pertumbuhan berikutnya akan lebih rendah hasilnya dibandingkan bibit yang telah siap tanam (telah cukup umur simpannya).

·         Umur panen saat calon umbi bibit ditanam di lapang  , untuk varietas Bauji maupun Super Philip sebaiknya 65 – 70 hari

·         Ukuran bibit sedang , sekitar 5-6 gram .  Penggunaan bibit yang berukuran terlalu besar akan meningkatkan biaya karena kebutuhan bibit semakin banyak

·         Kebutuhan bibit setiap hektar berkisar 800 – 1000 kg , tergantung dari besarnya bibit. Dan biaya untuk pembelian bibit sekitar separo dari seluruh biaya produksi.

·         Umbi bibit berwarna merah cerah, dengan kulit mengkilat

·         Umbi bibit bernas , sehat, padat , tidak keropos dan tidak lunak.  Bila ada umbi bibit yang tidak mempunyai sifat demikian sebaiknya tidak digunakan sebagai bibit.

·         Umbi bibit tidak terserang hama dan penyakit

·         Sebelum ditanam, umbi bibit dibersihkan dulu dari kulit-kulit yang kering dan bila pertunasan belum kelihatan diujung umbi, maka sebaiknya ujung umbi dipotong 1/3 agar mempercepat  munculnya tunas

          
PENGOLAHAN TANAH

Bawang merah  membutuhkan kondisi tanah yang lebih gembur dibanding tanaman sayuran lainnya .  Oleh karenanya pengolahan tanah pada bawang merah dilakukan sampai beberapa kali hingga tanah benar-benar menjadi gembur.  Bila tanah yang digunakan merupakan tanah bekas ditanami jagung maupun tebu, maka sisa tanaman tersebut harus dibersihkan hingga akar-akarnya supaya tidak mengganggu pertumbuhan bawang merah. Dapat juga menggunakan herbisida sebelum tanah di olah untuk mematikan rumput dan gulma lainnya ,seperti Goal maupun Roundup yang diberikan dua minggu sebelum tanah diolah. Tanah diolah dengan cara dibajak lebih dari 4 kali hingga tanah menjadi gembur dan tanah dikeringkan lebih dari seminggu .Kemudian tanah dihaluskan lagi, setelah halus dapat dibuat bedengan dengan ukuran

Untuk musim kemarau : tinggi bedengan 25 cm

                                        kedalaman parit 30-40 cm

                                        lebar parit 50 cm.

Untuk musim hujan      : tinggi bedengan 40 cm

                                        kedalaman parit  50 cm

                                        lebar parit 50 cm.

Pada budidaya bawang merah sangat diperlukan pembentukan bedengan, dimana adanya bedengan berfungsi agar tanaman bawang merah tidak selalu tergenang air , dan air yang disiramkan segera habis terserap.  Setelah bedengan terbentuk, maka ditaburi pupuk kotoran ternak (pupuk kandang ) yang sudah benar-benar matang, ditandai dengan kotoran ternak sudah seperti tanah yang gembur.  Dosis untuk kotoran ayam sebanyak 5 ton/ha, sedangkan untuk kotoran sapi maupun kambing sekitar 10-15 ton/ha.  Namun dosis ini bisa menjadi lebih banyak maupun lebih sedikit tergantung dari kesuburan tanah.              

Pupuk kandang yang diberikan bersamaan dengan pembuatan bedengan merupakan perlakuan pemberian pupuk dasar   .  Selain itu diberikan juga pupuk SP 36 dengan dosis 200 kg/ha swebagai pupuk dasar , yang ditaburkan merata pada seluruh permukaan bedengan.  Pupuk kandang maupun SP 36 diberikan seminggu sebelum tanam. Setelah tanah dipupuk maka tanah diairi agar pupuk dapat meresap ke dalam tanah.

PENANAMAN

Musim tanam optimal untuk bawang merah yaitu pada akhir musim hujan  bulan Maret – April dan musim kemarau Mei – Juni, tetapi di daerah pusat produksi dapat dijumpai penanaman bawang merah tanpa mengenal musim,  Untuk penanaman di luar musim (off season) perlu memperhatikan pengendalian hama dan penyakit lebih cermat.

Penanaman dilakukan setelah tanah dan bibit sudah dipersiapkan, dimana sebelum dilakukan penanaman tanah harus diari agar saat penanaman kondisi tanah gembur  Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa bibit sebelum ditanam lebih baik dibersihkan dan diseleksi terlebih dulu agar pertumbuhan tanaman menjadi baik.  Bila tidak diseleksi ditakutkan tercampurnya bibit yang jelek karena terserang penyakit seperti Fusarium , maka akan mengakibatkan pertanaman hancur karena Fusarium tersebut. Pembersihan bibit dilakukan sehari sebelum ditanam serta ujung bibit sudah dipotong , dan esoknya dapat dilakukan penanaman.

Untuk mempercepat proses penanaman, maka sebaiknya bedengan  yang akan ditanami sudah digariti sesuai dengan jarak tanam yang digunakan , sehingga penanaman lebih mudah dilaksanakan.  Jarak tanam yang dianjurkan yaitu 20 cm x 15 cm, namun bila umbi bibit besar maka dapat menggunakan jarak tanam 20 x 20 cm.  Penanaman dilakukan dengan cara menanam 2/3 bagian umbi ke dalam tanah, sedangkan 1/3 bagiannya muncul di atas tanah.

PENGAIRAN

Bawang merah membutuhkan air dalam kondisi yang cukup sejak pertumbuhan awal hingga menjelang panen.  Air yang diberikan pada tanaman walaupun dengan cara penggenangan/leb, namun harus segera meresap ke dalam tanah.  Bila tidak demikian maka tanaman akan menjadi busuk dan sebagai sumber penyakit.  Oleh karena itu pembuatan bedengan sangat diperlukan pada budidaya bawang merah .  Hal ini berhubunga sifat tanaman bawang merah yang membentuk umbi di dalam tanah sehingga air yang terlalu banyak akan membuat umbi menjadi busuk .

Pada musim kemarau , pengairan dapat diberikan setiap hari sejak tanaman ditanam hingga tanaman membentuk umbi dan dikurangi setelah umbi terbentuk.  Namun walaupun musim kemarau , bila kondisi tanah setelah diairi dan selang dua hari tanah masih basah, maka tanaman tidak perlu diairi.  Oleh karena itu dituntut kepekaan petani dalam mengamati kebutuhan air bagi tanamannya.

Untuk musim hujan pengairan yang dibutuhkan lebih sedikit yaitu selang dua hari sekali.  Seperti di atas maka yang penting melihat kondisi kelembaban tanah, bila tanah masih lembab sebaiknya tidak perlu diairi.  Yang penting diamati yaitu setelah turun hujan, sebaiknya tanaman bawang merah disirami dengan air bersih yang tujuannya untuk menghilangkan inokulum dari penyakit yang kemungkinan menempel di daun.

Cara pengairan dapat dilakukan dengan penggenangan/leb maupun denan cara disiram/disirat.  Kedua cara tersebut sebenarnya mempunyai kelebihan dan kekurangan.  Untuk cara leb sebaiknya dilakukan pada kondisi tanah yang porous, sehingga air yang tergenang cepat habis (tuntas), walaupun cara ini membutuhkan waktu yang lebih pendek dibandingkan cara disiram.  Sedangkan cara siram membutuhkan tenaga lebih banyak dan waktu lebih lama.  Namun di daerah tertentu kedua cara tersebut juga dilakukan bersamaan .

PEMUPUKAN

Pemupukan pada bawang merah sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan produksi umbi yang lebih baik.  Namun pemupukan tidak perlu diberikan secara berlebihan karena pupuk malahan akan terbuang dengan percuma. Seperti misalnya setelah tanaman membentuk umbi, maka sebaiknya pemupukan dihentikan.  Terkadang ada petani yang tetap memberikan pupuk walaupun tanaman telah berumur diatas 4- hari, dan ini hanya membuang pupuk dengan sia-sia.


Dosis pupuk

Dosis pupuk sebenarnya bukan merupakan patokan yang harus ditepati, karena memupuk suatu tanaman akan berbeda pada setiap kondisi kesuburan tanah yang berbeda.   Namun dosis pupuk yang dapat dianjurkan pada jenis tanah aluvial, seperti daerah Banyuanyar, Probolinggo maupun Sidokare-Rejoso, Nganjuk seperti berikut. Pupuk dasar menggunakan 10 t/ha pupuk kandang dan SP 36 200 kg/ha yang diberikan 7 hari sebelum tanam.  Sedangkan pemupukan berikutnya menggunakan pupuk urea 200 kg/ha, ZA 450 kg/ha dan KCl 200 kg/ha yang diberikan separo-separo pada saat tanaman berumur 15 hari dan 30 hari setelah tanam. Cara pemupukan dengan meletakkan pada larikan di sekitar tanaman, kemudian ditutup dengan tanah.

  Pemberian pupuk pelengkap yang banyak beredar di pasar sebenarnya kurang bermanfaat bagi peningkatan pertumbuhan dan produksi bawang merah.  Namun pupuk pelengkap tersebut hanya sebagai tambahan nutrisi pelengkap karena pada umumnya mengandung unsur mikro.  Untuk tanaman bawang merah, unsur mikro kurang diperlukan karena tanaman bawang merah berumur pendek yaitu sekitar 60-70 hari.  Sedangkan unsur mikro proses pelarutannya dan penyerapannya ke dalam tanaman lama sehingga lebih sesuai bagi tanaman sayuran yang berumur panjang seperti cabai atau tomat.
PENGENDALIAN GULMA

Gulma merupakan tumbuhan pengganggu yang menyebabkan tanaman utama terganggu pertumbuhannya.  Untuk tanaman bawang merah yang umbinya terbentuk di dalam tanah maka kehadiran guilma sangat mengganggu karena pembersihan gulma harus hati-hati dan ditakutkan mengenai dan mengganggu umbinya. Pembersihan gulma dilakukan dengan cara menyiang dengan intensif sesuai dengan kondisi gulma yang ada dengan cara mencabut gulma sampai terangkat akar-akarnya serta menggunakan herbisida pra tumbuh dengan dosis sesuai anjuran.

Cara membersihkan dan mencabut gulma harus hati-hati supaya tidak mengganggu tanaman bawang merah apalagi bila sudah berumbi.  Pembersihan biasanya menggunakan alat seperti sosrok bambu kecil sehingga gulma dapat terangkat sampai ke akarnya.  Bila tanaman sudah membentuk umbi yang agak besar maka sebaiknya pengendalian gulma dihentikan.


PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
Hama Ulat Bawang
Biologi dan Potensi Serangan

Ulat Spodoptera exigua dijumpai hampir pada setiap umur tanaman bawang merah. Ulat berukuran panjang sampai + 25 mm, berwarna hijau atau coklat dengan garis tengah berwarna kuning. Serangga dewasa meletakkan telur pada daun bawang merah dan gulma yang tumbuh disekitarnya. Siklus hidup hama ini sempurna yaitu telur, larva, pupa dan imago yang berupa ngengat (Duriat, dkk., 1994). Pada saat awal pertumbuhan bawang merah, biasanya dijumpai kelompok telur dan larva stadia awal (instar 1 atau 2). Populasi ini akan terus meningkat mulai tanaman berumur 2 minggu sampai tanaman  di panen. Fye dan Mc Ada (1972) dalam Smits (1987), lamanya daur hidup ulat sangat tergantung pada temperatur. Temperatur yang makin tinggi akan memperpendek lamanya stadia telur, larva, pupa dan ngengat. Periode ngengat berkisar antara 10 – 20 hari. Setiap individu betina dapat bertelur antara 500 – 600 butir. Setelah 2 – 6 hari telur menetas, larva membuat lubang pada permukaan daun kemudian masuk ke bagian dalam  daun. Larva mempunyai 5 – 6 stadia dengan kisaran umur 8,20 – 18,70 hari. Fase pupa  berkisar 5,10 – 7,70 hari. Pada bulan Agustus – Oktober, kemampuan ngengat untuk bertelur lebih tinggi (Sutarya , 1996).

Ulat menyerang tanaman dengan cara memakan daun bagian dalam, daun bawang merah tinggal epidermisnya saja, sehingga pada daun terlihat bercak-bercak putih transparan. Serangan hama ini kerusakan dapat  menyebabkan kehilangan hasil 56,94 – 57 % (Dibyantoro, 1993; Sastrosiswoyo, 1994), bahkan pada daerah Kab. Probolinggo pada saat tanam bulan Agustus dapat menyebabkan kerusakan 100 % sehingga menyebabkan puso ( Rosmahani dkk., 2001)

Hama ini termasuk hama yang menyerang banyak spesies tanaman inang.  Menurut Smits (1987), hama ini mempunyai lebih dari 200 spesies tanaman inang yang termasuk dalam  lebih dari 40 famili yang berbeda, namun tanaman inang yang utama adalah keluarga bawang-bawangan, cabai merah dan jagung (Duriat dkk., 1994).

Kondisi Pengendalian Saat Ini

  Pola tanam yang umum dikerjakan oleh petani bawang terutama dilahan irigasi, adalah padi – bawang merah – bawang merah – bawang merah atau padi – bawang merah – cabai merah – bawang merah.  Padi ditanam pada musim penghujan. Waktu yang dipilih untuk merotasi tanah dengan tanaman padi tidak serentak. Sejak akhir musim penghujan sampai dengan pertengahan musim penghujan berikutnya petani menanam bawang merah pada lahannya atau kadang-kadang di sela dengan tanaman jagung. Pola tanam demikian merupakan pola tanam yang tidak memutus siklus hidup hama S. exigua. Keadaan ini menyebabkan tersedianya semua stadia pertumbuhan bawang merah serta tersedianya inokulum hama ulat S. exigua. dalam areal yang luas di lapangan.

  Penggunaan insektisida untuk mengendalikan hama ulat S. exigua masih menjadi andalan utama para petani, sehingga insektisida menjadi jaminan utama untuk keberhasilan usahatani. Menurut Stallen dkk.(1990) di sentra produksi bawang merah, petani umumya mengendalikan ulat dengan menggunakan insektisida yang beredar di pasaran dengan frekuensi dan dosis yang cukup tinggi. Volume larutan insektisida yang digunakan pada setiap aplikasi berkisar 560 – 1.588 liter per ha. Petani melakukan penyemprotan secara berkala 3 – 4 hari sekali, sehingga dalam satu musim tanam melakukan penyemprotan 15 – 20 kali (Dibyantoro, 1995), bahkan pada musim tanam bulan Agustus interval penyemprotan meningkat menjadi 1 – 2 hari sekali, sehingga dalam satu musim tanam dapat mencapai 50 kali aplikasi insektisisda (Rosmahani dkk., 1998). Jika udara panas terus menerus, maka pengendalian ulat dengan  cara mekanis ( mengambil dan membuang kelompok telur maupun ulat) dan dengan cara aplikasi insektisida (interval 1 –2 hari sekali) tetap tidak dapat mengendalikan populasi ulat  S. exigua yang meningkat cepat dalam waktu satu minggu dapat menyebabkan tanaman bawang merah puso (Rosmahani  dkk., 2001)

Alternatif Pengendalian Secara Fisik

  Sampai saat ini telah banyak hasil penelitian yang menyajikan komponen –komponen pengendalian yang dapat dirakit dalam satu pengendalian secara PHT. diantaranya adalah penerapan budidaya tanaman sehat, pergiliran tanaman, penanaman serentak, pengendalian secara mekanis, penggunaan seks feromon, penggunaan alat semprot yang tepat, pengendalian secara hayati. Namun jika lingkungan sudah kurang sesuai bagi pertanaman bawang merah, terutama pada saat tanam bulan Agustus, yang pada saat tersebut temperatur udara sangat panas ( diatas 29 ° C), tidak ada curah hujan, sumber infeksi hama sudah tersedia di sekitar pertanaman karena sudah ada pertanaman sejak awal musim kemarau, populasi hama dapat meningkat dengan sangat cepat dalam waktu 1-2 hari diperlukan alternatif komponen pengendalian yang lain.  Komponen pengendalian yang harus disertakan adalah pengendalian fisik dengan jalan memberikan kerodong kasa (Gambar 1.) pada seluruh tanaman dengan tinggi kerodong 175 cm, yang dipasang sejak sebelum bibit bawang merah ditanam sampai saat panen. Pada keadaan ini petani masih dapat masuk kedalam lerodong kasa untuk melakukan aktivitas pemeliharaan tanamannya a.l.: tanam, aplikasi herbisida, penyiangan, penyiraman, monitoring serangan hama, pengendalian  hama ulat secara mekanis dan panen.

  Kasa dibuat dari bahan plastik dengan ukuran  lubang 17 mesh. Pengendalian dengan cara ini sudah mulai dilakukan oleh petani di Kab. Probolinggo sejak 6 – 8 tahun terakhir, dikombinasikan monitoring serangan ulat , dua kali seminggu,  pengendalian mekanis yaitu mengambil dan membuang kelompok telur dan ulat yang ada pada daun dan permukaan atas kerodong kasa, aplikasi insektisida 1 – 2 kali per musim tanam jika serangan hama thrips meningkat. Penggunaan kerodong kasa ini dapat mengurangi bahkan meniadakan  penggunaan insektisida kimia, sehingga efek negatif penggunaan insektisida juga dapat ditiadakan. Kerodong kasa dapat diterapkan pada luasan pertanaman yang sempit maupun yang luas namun pada umumnya ukuran kerodong kasa yang diterapkan oleh petani per unit antara 500 m2 sampai 2000 m 2. Keberhasilan pengendalian hama ulat dengan menggunakan kerodong kasa ini dapat mencapai 100 % dan bawang merah dapat dipanen dengan hasil optimal. Biaya penggunaan kerodong kasa untuk pertanaman bawang merah dengan luas lahan 1300 m 2 adalah sebesar Rp. 1.652.500,- (Analisa biaya tertera pada Lampiran 1.). Biaya penggunaan kerodong kasa ini setara dengan biaya aplikasi penggunaan insektisida. Namun kerodong kasa ini dapat digunakan untuk 6 – 8 kali musim tanam bila perawatan kasa dilakukan dengan baik (Rosmahani, dkk., 2001).      

  Keberhasilan kerodong kasa  pada usahatani bawang merah ini    adalah sebagai barier fisik bagi masuknya hama ulat S. exigua pada pertanaman bawang merah.  Ukuran lubang bahan kerodong kasa  adalah sebesar 17 mesh, sehingga ngengat yang datang tidak dapat masuk kedalam pertanaman bawang  merah. Jika ngengat hinggap pada permukaan bagian atas kerodong kasa dan bertelur maka masih ada kemungkinan telur untuk jatuh pada daun bawang merah di dalam kerodong kasa. Hal ini dapat ditanggulangi dengan pengendalian mekanis yaitu dengan mengambil dan membuang kelompok telur yang ada pada tanaman bawang merah. Secara tidak langsung secara ekologis kerodong kasa dapat  membantu memperbaiki lingkungan tumbuh bawang merah pada saat musim kemarau (saat tanam bulan Agustus).  Pada saat tanam tersebut udara panas dan kering , dengan temperatur udara > 30 °C. Pada kondisi udara yang panas dan kering daun bawang merah  dapat mengalami respirasi yang  tinggi (Sumami dan Rosliani, 1995), keadaan ini menyebabkan tanaman menjadi lemas, dan lemah. Penggunaan kerodong kasa secara fisik juga dapat mengurangi  intensitas sinar matahari dan  respirasi tanaman sehingga pertumbuhan tanaman bawang merah dapat berlangsung dengan normal sehingga dapat menghasilkan umbi dengan baik. Selain itu penggunaan kerodong kasa menyebabkan pengurangan penggunaan insektisida  dalam jumlah besar sehingga juga dapat menekan efek negatif insektisida baik di lapangan maupun di tingkat kosumen.

Potensi Pengembangan Teknologi

Potensi pengembangan teknologi nampaknya cukup bagus. Luas pertanaman  bawang merah yang menggunakan kerodongkasa pada tahun 2001 di Kab. Probolinggo mencapai  210 ha (Rosmahani, dkk., 2001).  Pengembangan teknologi dapat dicapai yaitu dengan cara sosialisasi penerapan kerodong kasa secara bertahap yang dimulai dari petani disekitar petani yang telah menggunakan, meluas kepada petani disekitarnya. Kegiatan ini membutuhkan waktu yang tidak singkat mengingat petani sudah sangat terbiasa selama bertahun-tahun mengendalikan hama dan penyakit bawang merah secara konvensional dengan pestisida kimia sintetik. Perubahan praktek pengendalian organisme pengganggu tumbuhan secara konvensional ke sistem PHT perlu dilakukan secara bertahap melalui program pelatihan dan penyuluhan yang intensif (Untung, 1993).

Selain itu beberapa hal perlu dicermati agar pengembangan penerapan kerodong kasa sebagai pelengkap komponen PHT dapat berlangsung  yaitu:

Hal-hal yang dapat memacu keberhasilan penerapan kerodong kasa pada bawang merah a.l:

·         Semakin banyak petani yang mengikuti program SLPHT

·         Semakin mahalnya harga pestisida kimia sintetik

·         Semakin seringnya petani mengalami kegagalan dalam penggunaan pestisida kimia saja

·         Kesadaran masyarakat konsumen maupun perodusen bawang merah akan bahaya residu pestisida kimia sintetik

Hal-hal yang masih menjadi penghambat keberhasilan penerapan kerodong kasa sebagai komponen pelengkap PHT pada bawang merah a.l:

·         Semakin sempitnya kesempatan memiliki lahan garapan sendiri. Semakin banyak petani yang menggadaikan lahan garapannya untuk selama lebih dari dua tahun, karena keterbatasan penghasilan, keterbatasan modal usaha. Petani berubah menjadi penggadu untuk lahannya sendiri sebab sarana produksi disediakan oleh pemilik modal, padahal pemilik modal tidak berada ditempat dan tidak mau tahu dengan keadaan ekosistem dilahan garapan, sehingga untuk keperluan usahatani bawang merah disediakan pestisida kimia dalam jumlah banyak. Petani sulit menentukan pilihan pengendalian lain selain penggunaan pestisida kimia.

·         Pemilik toko pertanian sering meminjamkan modal berupa pupuk dan pestisida yang dapat dibayar jika saat panen tiba.

·         Kurangnya kelompok tani yang dapat menghimpun petani untuk memecahkan persoalan usahatani, termasuk pengusahaan pinjaman modal untuk penerapan kerodong kasa pada tanaman bawang merah dalam areal luas.

Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum)

·         Gejala serangan, tanaman kurus kekuningan dan busuk bagian pangkal

·         Tanaman mudah tercabut karena pertumbuhan akar terganggu dan membusuk

·         Tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan

·         Pencegahan di daerah endemis Fusarium, perlu perlindungan bibit dengan menaburkan fungisisda dosis 100 gram/100 kg bibit yang diberikan dua tau tiga hari sebelum tanam

·         Di daerah endemis sebelum tanam, tanah yang sudah diolah diberi fungisida seperti Fapam sebanyak 2 cc/l, untuk mematikan patogen dan Fusarium

Penyakit Becak Ungu /Trotol (Alternaria porri)

·         Gejala awal serangan pada daun menimbulkan bercak berukuran kecil, berwarna putih    dengan pusat berwarna ungu

·         Ujung daun mengering bahkan daun dapat patah

·         Bila tanaman terkena hujan atau embun, segera disiram air bersih untuk mengurangi penularan spora penyakit yang menempel pada daun

·         Pengendalian dengan menggunakan fungisida selektif dengan dosis sesuai anjuran, bila intensitas serangan mencapai 5 % tanaman terserang perlu

  Yang perlu diperhatikan dalam pengendalian hama dan penyakit menggunakan pestisida yaitu :

·         Memilih pestisida yang tepat , sesuai target hama atau target penyakit

·         Jangan menggunakan pestisida lebih dari 1 macam pada satu waktu penyemprotan

·         Gunakan beberapa macam pestisida secara bergantian , agar hama dan penyakit tidak kebal terhadap satu macam pestisida

·         Jangan menggunakan dosis yang berlebihan karena tidak efektif dan akan menambah biaya produksi

·         Waktu penyemprotan agar diperhatikan , sebaiknya sebelum matahari terbit atau sore hari

·         Cara penyemprotan tepat mengenai sasaran serta searah dengan angin

PENINGKATAN MUTU DAN HASIL PANEN

·         Umur panen tergantung varietas, namun dapat menggunakan dasar :                         untuk konsumsi  : 50-60 hari setelah tanam (di dataran rendah)

70-75 hari setelah tanam (di dataran tinggi _

kerebahan daun 70-80 %

     untuk umbi bibit :  65-70 hari setelah tanam (di dataran rendah)

80-90 hari setelah tanam (di dataran tinggi _

kerebahan daun 90 %

·         Waktu panen udara cerah dan tidaj basah

·         Keseluruhan daun tampak menguning

·         Sebagian umbi nampak tersembul keluar

·         Cara panen dengan mencabut keseluruhan tanaman secara hati-hati

·         Hasil panen diikat 1-1,5 kg setiap ikatan

·         Pelayuan atau curing sebelumbawang merah dikeringkan  dengan menjemur 2-3 hari di bawah terik sinar matahari

·         Pengeringan dilakukan 7-14 hari, hingga mencapai susut bobot 25-40 % atau sampai kering askip

·         Untuk mengetahui kesiapan umbi kering askip yaitu menyimpan sedikit contoh dalam kantong plastik putih selama 24 jam, bila sudah tidak ada titik air dalam kantong, berarti sudah mencapai kering askip

·         Penyimpanan bawang merah dapat dilakukan di atas perapian , menggunakan para-para bambu dan di bawahnya diberi pengasapan

·         Penyimpanan di ruang berventilasi sangat baik karena mempunyai sirkulasi udara yang baik dan dapat mencegah serangan hama dan penyakit seperti rumah sere dan gudang berpembangkit vorteks (mengubah aliran udara jenuh dalam gudang, dengan menghembus ke atas keluar gudang dan digantikan udara luar yang lebih bersih oleh adanya vorteks).

·         Sortasi dilakukan untuk memisahkan umbi yang sehat , utuh dan menarik dengan umbi yang telah rusak.  Sortasi dapat meningkatkan nilai jual dan mencegah penularan penyakit

·         Grading dilakukan untuk menentukan tingkat mutu produk, sehingga harga dapat ditentukan sesuai mutunya.  Grading dilakukan dalam beberapa kelas yaitu kelas I diameter > 2,5 cm, kelas II =1,5-2,5 cm , kelas III < 1,5 cm.

Terungkap! faktor kecerdasan Eisntein

Otak Einstein memiliki pola lipatan yang luar biasa di beberapa bagiannya, yang dapat membantu menjelaskan mengapa dia jenius. Demikian yang ditunjukkan dalam foto terbaru dalam jurnal “Brain” yang terbit 16 November.Albert Einstein, ahli fisika yang jenius itu memiliki lipatan ekstra dalam materi otaknya yang berwarna abu-abu, yang merupakan bagian otak untuk pikiran sadar. Secara khusus, lobus frontalis, daerah yang berhubungan dengan pemikiran abstrak dan perencanaan, memiliki lipatan yang tidak biasa dan rumit, seperti yang dinyatakan dalam sebuah analisis. "Bagian otak tersebut adalah bagian yang sangat canggih dari otak manusia," kata Dean Falk, penulis penelitian dan seorang antropolog di Florida State University, mengacu pada materi abu-abu tersebut. "Dan otak Einstein sangat luar biasa." Foto otak sang jenius Albert Einstein adalah fisikawan yang paling terkenal dari abad ke-20. Teori terobosannya mengenai relativitas umum menjelaskan bagaimana cahaya membelok karena lipatan ruang dan waktu. Ketika ilmuwan tersebut meninggal pada 1955 di usia 76 tahun, Thomas Harvey, ahli patologi yang mengautopsinya, mengambil otak Einstein dan menyimpannya. Harvey mengiris ratusan bagian tipis jaringan otak Einstein untuk diperiksa dengan mikroskop dan juga memotret 14 foto otak tersebut dari beberapa sudut. Harvey mempresentasikan sebagian penelitiannya, namun tetap merahasiakan foto tersebut karena ingin menulis buku tentang otak fisikawan tersebut. Tetapi dia meninggal sebelum bukunya selesai. Foto-foto tersebut tetap tersembunyi selama beberapa puluh tahun. Pada 2010, setelah menjalin persahabatan dengan salah satu penulis penelitian yang baru, keluarga Harvey menyumbangkan foto tersebut ke National Museum of Health and Medicine di Washington D.C, Tim Falk mulai menganalisis foto-foto tersebut pada 2011. Lebih banyak koneksi sel otak Tim tersebut menemukan bahwa secara keseluruhan,
otak Einstein memiliki lipatan yang jauh lebih rumit di bagian celebral cortex, yang merupakan materi berwarna abu-abu pada permukaan otak dan berperan untuk pikiran sadar. Secara umum, materi abu-abu yang lebih tebal berhubungan dengan IQ yang lebih tinggi. Banyak ilmuwan percaya bahwa dengan lipatan yang lebih banyak dapat memberikan area permukaan tambahan untuk pemrosesan mental, yang memungkinkan lebih banyak koneksi antara sel-sel otak, kata Falk. Dengan lebih banyak koneksi antara bagian yang jauh dari otak, seseorang akan mampu membuat lompatan mental, dengan menggunakan sel-sel otak yang letaknya berjauhan tersebut untuk memecahkan beberapa masalah kognitif. Prefrontal cortex, yang memainkan peranan penting untuk pemikiran abstrak, membuat prediksi dan berencana, juga memiliki pola lipatan yang luar biasa rumit pada otak Einstein. Mungkin hal tersebut telah membantu sang fisikawan dalam mengembangkan teori relativitas. "Einstein berpikir soal percobaan saat ia membayangkan dirinya menyusuri seberkas cahaya, dan itu persis merupakan bagian otak yang diduga membuat seseorang menjadi sangat aktif" dalam eksperimen rumit semacam itu, ujar Falk kepada LiveScience. Selain itu, lobus oksipitalis dari otak Einstein, yang melakukan proses visual, menunjukkan lipatan tambahan. Lobus parietalis bagian kanan dan kiri juga tampak sangat asimetris, ungkap Falk. Tidak jelas hubungan antara bagian tersebut dan kejeniusan Einstein, tapi bagian otak tersebut adalah kunci untuk tugas-tugas spasial dan penalaran matematika, tambah Falk. Para peneliti masih belum mengetahui apakah otak Einstein sudah luar biasa sejak lahir atau karena ia menggali fisika selama bertahun-tahun yang menyebabkan otaknya menjadi sangat spesial. Falk yakin keduanya memainkan peran penting dalam kejeniusan Einstein. "Entah itu alami atau dipupuk," katanya. "Ia lahir dengan otak yang sangat baik, dan dia memiliki berbagai pengalaman yang memungkinkan dia untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya." Tapi sebagian besar kemampuan baku Einstein mungkin didapatnya secara alami bukan dari hasil kerja kerasnya seumur hidup, kata Sandra Witelson, dari Michael G. De Groot School of Medicine at McMasters University yang telah melakukan penelitian di masa lalu mengenai otak Einstein. Pada 1999, karyanya mengungkapkan bahwa lobus parietalis bagian kanan Einstein memiliki lipatan ekstra, yang didapatkan dari gen orangtuanya atau terjadi ketika Einstein masih dalam kandungan. “Otak tersebut berbeda bukan sekadar dari ukuran yang lebih besar atau kecil, namun juga polanya,” ungkap Witselon. “Anatomi otaknya sangat unik jika dibandingkan dengan setiap foto atau gambaran otak manusia yang pernah ada.”



Cak